Category Archives: puisi relegius
Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^
Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^
Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^
Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^
Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.
Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.
Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.
Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.
Tiada sesal di dalam hati – Menoleh pun takkan sudi – Kepedihan di dalam hati – Terpancar dari mata yang sedih – Hidup ini hitam dan putih – Bentuklah jiwa dan jatidiri – Jalan hidup memang tak pasti – Tapi aku percaya karena bisa memilih – Sebuah jalan hidup yang berarti – Jalan hidup yang sejati – Walau luka tak terobati.
Tiada sesal di dalam hati – Menoleh pun takkan sudi – Kepedihan di dalam hati – Terpancar dari mata yang sedih – Hidup ini hitam dan putih – Bentuklah jiwa dan jatidiri – Jalan hidup memang tak pasti – Tapi
Tiada sesal di dalam hati – Menoleh pun takkan sudi – Kepedihan di dalam hati – Terpancar dari mata yang sedih – Hidup ini hitam dan putih – Bentuklah jiwa dan jatidiri – Jalan hidup memang tak pasti – Tapi aku percaya karena bisa memilih – Sebuah jalan hidup yang berarti – Jalan hidup yang sejati – Walau luka tak terobati.
Tiada sesal di dalam hati – Menoleh pun takkan sudi – Kepedihan di dalam hati – Terpancar dari mata yang sedih – Hidup ini hitam dan putih – Bentuklah jiwa dan jatidiri – Jalan hidup memang tak pasti – Tapi
Tangis tak bertepi – Di dalam sungai hati – Bimbing aku dalam sepi – Ketika aku malah berlari – Bersembunyi di hutan benci – Meminum air iri dengki – Makin tak percaya diri – Setelah jatuh di timpa darah duri – Ini lah hidupku yang merugi – Jalan takdir yang tak kuingini – Mengapa Tuhan tetap tak mau mengerti – Ketika hatiku menolak untuk kembali.
Tangis tak bertepi – Di dalam sungai hati – Bimbing aku dalam sepi – Ketika aku malah berlari – Bersembunyi di hutan benci – Meminum air iri dengki – Makin tak percaya diri – Setelah jatuh di timpa darah duri
Tangis tak bertepi – Di dalam sungai hati – Bimbing aku dalam sepi – Ketika aku malah berlari – Bersembunyi di hutan benci – Meminum air iri dengki – Makin tak percaya diri – Setelah jatuh di timpa darah duri – Ini lah hidupku yang merugi – Jalan takdir yang tak kuingini – Mengapa Tuhan tetap tak mau mengerti – Ketika hatiku menolak untuk kembali.
Tangis tak bertepi – Di dalam sungai hati – Bimbing aku dalam sepi – Ketika aku malah berlari – Bersembunyi di hutan benci – Meminum air iri dengki – Makin tak percaya diri – Setelah jatuh di timpa darah duri
Ketika malam penuh Bintang – Ku sampaikan semua keluhan – Pada pemilik Semesta Alam – Berikan aku kekuatan – Ketika hati begitu gersang – Ketika lidah terbakar dendam – Selamatkan aku dari kebencian – Yang terpelihara dari kebodohan – Usaplah wajahku yang kelam – Anugrahkan aku jalan kebaikan – Dimana aku mendapatkan ketenangan – Wahai Tuhan hibur hatiku yang kesepian.
Ketika malam penuh Bintang – Ku sampaikan semua keluhan – Pada pemilik Semesta Alam – Berikan aku kekuatan – Ketika hati begitu gersang – Ketika lidah terbakar dendam – Selamatkan aku dari kebencian – Yang terpelihara dari kebodohan – Usaplah
Ketika malam penuh Bintang – Ku sampaikan semua keluhan – Pada pemilik Semesta Alam – Berikan aku kekuatan – Ketika hati begitu gersang – Ketika lidah terbakar dendam – Selamatkan aku dari kebencian – Yang terpelihara dari kebodohan – Usaplah wajahku yang kelam – Anugrahkan aku jalan kebaikan – Dimana aku mendapatkan ketenangan – Wahai Tuhan hibur hatiku yang kesepian.
Ketika malam penuh Bintang – Ku sampaikan semua keluhan – Pada pemilik Semesta Alam – Berikan aku kekuatan – Ketika hati begitu gersang – Ketika lidah terbakar dendam – Selamatkan aku dari kebencian – Yang terpelihara dari kebodohan – Usaplah
Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari – Aku sang Mentari sangat sedih hari ini – Maaf jika tangisku membanjiri Bumi.
Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari
Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari – Aku sang Mentari sangat sedih hari ini – Maaf jika tangisku membanjiri Bumi.
Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari
Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm jalan cahaya Ilahi^^
Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm
Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm jalan cahaya Ilahi^^
Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm
Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian
Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian
Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian
Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian
Anak – anak setan Dari 12 suku yang terbuang Kaum pendusta dan pembunuh utusan Penyembah sapi dan kemungkaran Pemalsu kitab-kitab kebenaran Penebar fitnah dan peperangan Kini tlah kembali ke tanah yang di janjikan Tempat hukuman terakhir dari sang Tuhan Yang telah di takwilkan tempat ajang pembersihan Dari semua anak suku yang membangkang Maka tunggulah dari awal perhimpunan Dan masuklah kedalam kota yang akan dihancurkan
Anak – anak setan Dari 12 suku yang terbuang Kaum pendusta dan pembunuh utusan Penyembah sapi dan kemungkaran Pemalsu kitab-kitab kebenaran Penebar fitnah dan peperangan Kini tlah kembali ke tanah yang di janjikan Tempat hukuman terakhir dari sang Tuhan Yang
Anak – anak setan Dari 12 suku yang terbuang Kaum pendusta dan pembunuh utusan Penyembah sapi dan kemungkaran Pemalsu kitab-kitab kebenaran Penebar fitnah dan peperangan Kini tlah kembali ke tanah yang di janjikan Tempat hukuman terakhir dari sang Tuhan Yang telah di takwilkan tempat ajang pembersihan Dari semua anak suku yang membangkang Maka tunggulah dari awal perhimpunan Dan masuklah kedalam kota yang akan dihancurkan
Anak – anak setan Dari 12 suku yang terbuang Kaum pendusta dan pembunuh utusan Penyembah sapi dan kemungkaran Pemalsu kitab-kitab kebenaran Penebar fitnah dan peperangan Kini tlah kembali ke tanah yang di janjikan Tempat hukuman terakhir dari sang Tuhan Yang
Langit kini berwarna merah Dunia akan berubah oleh tiupan perang yang berdarah Berkumpullah pasukan perang ke tanah yang rendah Menghunus pedang di setiap pintu gerbang Berkibar terang bendera suci yang mengepung kota tua Bila sang pembebas telah menyerang sang durjana Menerjanglah bagai air bah sepuluh ribu pasukan berkuda Dan menghancurkan 12 suku bangsa yang tercela Tak ada yang tersisa kecuali pohon gorgod yang hina Yang menyembunyikan tuannya dari kematian Inilah janji Tuhan untuk kedua kalinya Semoga mereka binasa untuk selama – lamanya
Langit kini berwarna merah Dunia akan berubah oleh tiupan perang yang berdarah Berkumpullah pasukan perang ke tanah yang rendah Menghunus pedang di setiap pintu gerbang Berkibar terang bendera suci yang mengepung kota tua Bila sang pembebas telah menyerang sang durjana
Langit kini berwarna merah Dunia akan berubah oleh tiupan perang yang berdarah Berkumpullah pasukan perang ke tanah yang rendah Menghunus pedang di setiap pintu gerbang Berkibar terang bendera suci yang mengepung kota tua Bila sang pembebas telah menyerang sang durjana Menerjanglah bagai air bah sepuluh ribu pasukan berkuda Dan menghancurkan 12 suku bangsa yang tercela Tak ada yang tersisa kecuali pohon gorgod yang hina Yang menyembunyikan tuannya dari kematian Inilah janji Tuhan untuk kedua kalinya Semoga mereka binasa untuk selama – lamanya
Langit kini berwarna merah Dunia akan berubah oleh tiupan perang yang berdarah Berkumpullah pasukan perang ke tanah yang rendah Menghunus pedang di setiap pintu gerbang Berkibar terang bendera suci yang mengepung kota tua Bila sang pembebas telah menyerang sang durjana
