Category Archives: puisi relegius

Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^

Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^

Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^

Adzan telah usai – senja pun pamit untuk pulang – bulan kini bergerak perlahan – menerangi sisi jalan kota Malang – bukankah kata bisa mengores tajam? Tolong maafkan jika salah paham – Arif hanya seorang rimba petualang^^

Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.

Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.

Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.

Terang cahaya Bulan – Lelaki yang memintal malam – Menyulam Bintang di tangan – Datang penuh harapan – mengapa bertanya pada buhul yang terbakar – Tak ada yang percaya pada peramal – Ketika tangannya terlipat ke depan.

Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari – Aku sang Mentari sangat sedih hari ini – Maaf jika tangisku membanjiri Bumi.

Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari

Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari – Aku sang Mentari sangat sedih hari ini – Maaf jika tangisku membanjiri Bumi.

Hujan turun lagi – Mentari sepertinya sedih hari ini – Tak hangat lagi menyinari – Katakan pada Pelangi – datanglah setelah tangisku berhenti – Aku butuh warnamu yang menari – Dan juga burung Merpati – Tanyakan pada petir yang berlari

Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm jalan cahaya Ilahi^^

Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm

Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm jalan cahaya Ilahi^^

Hujan di awal Juni–doa ku pdmu Ilahi–utk cerita ddalam mimpi–yg hidup di sanubari–tumbuhlah dgn jati diri–jadilah pria sejati–walau kelak hidup dlm hitam & putih–sperti takdirmu yg tak pasti–berjanjilah utk selalu kembali– walau luka tak pernah terobati–Arif, berjanjilah utk selalu kmbali–dlm

Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian

Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian

Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian

Kereta Ramadhan kembali datang Membawa ku berlari kencang Menuju dunia pengasingan Bermandikan cahaya seribu tahun perjalanan Semoga sampai di tujuan Dan tak kan pernah kembali pulang Karena jiwa merindukan ke abadian

Langit kini berwarna merah Dunia akan berubah oleh tiupan perang yang berdarah Berkumpullah pasukan perang ke tanah yang rendah Menghunus pedang di setiap pintu gerbang Berkibar terang bendera suci yang mengepung kota tua Bila sang pembebas telah menyerang sang durjana Menerjanglah bagai air bah sepuluh ribu pasukan berkuda Dan menghancurkan 12 suku bangsa yang tercela Tak ada yang tersisa kecuali pohon gorgod yang hina Yang menyembunyikan tuannya dari kematian Inilah janji Tuhan untuk kedua kalinya Semoga mereka binasa untuk selama – lamanya

Langit kini berwarna merah Dunia akan berubah oleh tiupan perang yang berdarah Berkumpullah pasukan perang ke tanah yang rendah Menghunus pedang di setiap pintu gerbang Berkibar terang bendera suci yang mengepung kota tua Bila sang pembebas telah menyerang sang durjana