Category Archives: 1. Langit Merah Jakarta

Novel 1

Bab 2 – 6

02 Hari Terakhir Penataran 16 Juli 1994 Sabtu sore. Hari terakhir penataran siswa/i baru. ” … dan kami ucapkan selamat untuk adik – adik yang kini telah menjadi bagian dari keluarga besar STM ini, bapak …” suara keras sang kepala

Bab 2 – 6

02 Hari Terakhir Penataran 16 Juli 1994 Sabtu sore. Hari terakhir penataran siswa/i baru. ” … dan kami ucapkan selamat untuk adik – adik yang kini telah menjadi bagian dari keluarga besar STM ini, bapak …” suara keras sang kepala

Tokoh tokoh di dalam cerita

Tokoh Utama Agus Irawan/Agus – Pemimpin basis Waras. Pemberani, humoris dan punya rasa tanggung jawab yang terhadap basisnya. Agus sangat disenangi oleh kawan – kawan dan disegani oleh musuh – musuhnya. Jiwanya yang bersih akhirnya rusak karena dendam dan amarah

Tokoh tokoh di dalam cerita

Tokoh Utama Agus Irawan/Agus – Pemimpin basis Waras. Pemberani, humoris dan punya rasa tanggung jawab yang terhadap basisnya. Agus sangat disenangi oleh kawan – kawan dan disegani oleh musuh – musuhnya. Jiwanya yang bersih akhirnya rusak karena dendam dan amarah

Serpihan cerita

Halte Waras                                                                            . 011 Hari terakhir penataran                                                           . 020 Baju basis                                                                                . 026 Simpang Harmoni                                                                   . 029 Pencuri Itu ayahku Rein                                                         . 033 Kami memang biasa berkelahi                                                .

Serpihan cerita

Halte Waras                                                                            . 011 Hari terakhir penataran                                                           . 020 Baju basis                                                                                . 026 Simpang Harmoni                                                                   . 029 Pencuri Itu ayahku Rein                                                         . 033 Kami memang biasa berkelahi                                                .

Dipersembahkan

Dipersembahkan Untuk generasi yang hilang, generasi yang bersekolah dengan hujan batu di atas kepalanya. Generasi yang bersekolah dengan rasa takut dan  cemas dan juga dengan gagah berani untuk apa yang mereka ”yakini” dan mereka ”pahami” Untuk yang melewatinya selama 3

Dipersembahkan

Dipersembahkan Untuk generasi yang hilang, generasi yang bersekolah dengan hujan batu di atas kepalanya. Generasi yang bersekolah dengan rasa takut dan  cemas dan juga dengan gagah berani untuk apa yang mereka ”yakini” dan mereka ”pahami” Untuk yang melewatinya selama 3

Langit Merah Jakarta

Langit Merah Jakarta Arifuräman Cerita ini hanyalah fiksi[1]. Sebuah cerita yang diambil dalam peristiwa yang pernah terjadi pada era tahun 1994 – 1995, sebuah era tawuran pelajar yang pernah terjadi di Jakarta dan sekitarnya.  Sebagian cerita disini hanya merupakan rekaan.

Langit Merah Jakarta

Langit Merah Jakarta Arifuräman Cerita ini hanyalah fiksi[1]. Sebuah cerita yang diambil dalam peristiwa yang pernah terjadi pada era tahun 1994 – 1995, sebuah era tawuran pelajar yang pernah terjadi di Jakarta dan sekitarnya.  Sebagian cerita disini hanya merupakan rekaan.

Sinopsis cerita Langit Merah Jakarta

Sinopsis cerita Langit Merah Jakarta Cerita ini tentang lima orang sahabat yang dahulunya bersekolah di SMP yang sama yaitu SMP Muhammadiyah 33 Tomang, setelah lulus dari SMP mereka bersekolah di sekolah yang berbeda, Agus dan Setyo memilih bersekolah di STM

Sinopsis cerita Langit Merah Jakarta

Sinopsis cerita Langit Merah Jakarta Cerita ini tentang lima orang sahabat yang dahulunya bersekolah di SMP yang sama yaitu SMP Muhammadiyah 33 Tomang, setelah lulus dari SMP mereka bersekolah di sekolah yang berbeda, Agus dan Setyo memilih bersekolah di STM

Bab I

Juli – 1988 – SMPM 33[1] ”Agus Irawan, tinggi 165 centimeter berat 50 kilogram. Wajah ok … pintar … konyol …humoris … belum punya cewe … anak Makasar … bokap gw polisi …,” katanya mengenalkan dirinya. ”Rein Kea Indriwati. Pintar,

Bab I

Juli – 1988 – SMPM 33[1] ”Agus Irawan, tinggi 165 centimeter berat 50 kilogram. Wajah ok … pintar … konyol …humoris … belum punya cewe … anak Makasar … bokap gw polisi …,” katanya mengenalkan dirinya. ”Rein Kea Indriwati. Pintar,

Dari penulis ^^

Tidak ada yang tahu sebenarnya untuk apa mereka harus membela nama STM dengan cara tawuran. Rasa kesetiakawan, harga diri nama basis atau nama sekolah mampu membuat mereka rela berkorban walau harus membayarnya dengan harga yang mahal. Era tahun 1994-1995 wilayah

Dari penulis ^^

Tidak ada yang tahu sebenarnya untuk apa mereka harus membela nama STM dengan cara tawuran. Rasa kesetiakawan, harga diri nama basis atau nama sekolah mampu membuat mereka rela berkorban walau harus membayarnya dengan harga yang mahal. Era tahun 1994-1995 wilayah

serpihan cerita dan tokoh – tokoh di dalamnya

Serpihan cerita Halte Waras                                                                            . 011 Hari terakhir penataran                                                           . 020 Baju basis                                                                                . 026 Simpang Harmoni                                                                   . 029 Pencuri Itu ayahku Rein                                                         . 033 Kami memang biasa berkelahi                       

serpihan cerita dan tokoh – tokoh di dalamnya

Serpihan cerita Halte Waras                                                                            . 011 Hari terakhir penataran                                                           . 020 Baju basis                                                                                . 026 Simpang Harmoni                                                                   . 029 Pencuri Itu ayahku Rein                                                         . 033 Kami memang biasa berkelahi                       

Dipersembahkan untuk

Dipersembahkan Untuk generasi yang hilang, generasi yang bersekolah dengan hujan batu di atas kepalanya. Generasi yang bersekolah dengan rasa takut dan  cemas dan juga dengan gagah berani untuk apa yang mereka ”yakini” dan mereka ”pahami” Untuk yang melewatinya selama 3

Dipersembahkan untuk

Dipersembahkan Untuk generasi yang hilang, generasi yang bersekolah dengan hujan batu di atas kepalanya. Generasi yang bersekolah dengan rasa takut dan  cemas dan juga dengan gagah berani untuk apa yang mereka ”yakini” dan mereka ”pahami” Untuk yang melewatinya selama 3