Sulit saya percaya, kalau Tuhan “dilahirkan” agar manusia mengenal diriNya

Beberapa hari yang lalu saya membaca buku – buku tentang Tuhan dan Dewa – dewa, bagimana sejarahnya ia menjadi Tuhan lalu prosesi ia di angkat menjadi Tuhan, lalu menjadi wujud yang tertinggi dan wajib di sembah oleh manusia.

Saya orang yang tertarik dengan apa saja, apalagi sesuatu yang di luar pemahaman dan nalar saya. Membaca, menelaah lalu mengkritisinya. Itu menjadikan akal saya mampu untuk berfikir logis, akurat dan tematis (melibatkan banyak konsepsi ilmu). Tapi terkadang ketika kita berbicara masalah yang begitu sensitif (keyakinan) akal kita seperti otomatis mengunci, sehingga akal yang seharusnya kita gunakan dengan maksimal malah terjerembab pada “kebisuan” untuk belajar dan mencari tahu sesuatu dengan benar.

Tanpa bermaksud mengusik suatu agama/keyakinan tertentu, maka ijinkan saya untuk berfikir, merenung, mengkaji dan mengkritisi apa yang saya baca. Karena sesuatu yang telah di “umumkan” dan di sampaikan di tengah masyarakat (kitab, brosur dan sejenisnya) bukanlah sesuatu pemahaman yang tidak boleh di kritisi, menerima dan meyakini sesuatu tanpa ilmu hanya menyebabkan keyakinan itu sendiri kosong dan rapuh. Tentu saja, setiap kita juga harus berani jujur untuk menjadi “penilai” apa yang kita tulis sendiri dan saya tidak boleh keluar dari konteks berfikir cerdas dan kritis dalam hal ini.

Tolong ijinkan saya untuk mengkritisi apa yang saya baca, dan saya harap siapa pun yang membacanya tidak merasa sedang saya sudutkan, baik keyakinannya mau pun ajaran agamanya. Karena pembahasan ini pasti mengundang pro dan kontra maka penjelasan dan jawaban hanya akan saya batasi dalam kerangka berfikir jernih dan bebas dari prasangka dan sentimen terhadap apa yang saya kritisi.

Hal yang pertama yang saya ingin kritisi adalah, apakah Tuhan perlu dilahirkan dari seorang manusia untuk bisa “hidup” di dunianya manusia? Apakah Tuhan “bergantung” terhadap sesuatu yang membuat dia dan manusia berinteraksi? Apakah Tuhan membutuhkan perantara sesuatu yang menjadikan dirinya mampu diraba, dilihat dan juga di sentuh? Apakah Tuhan memerlukan itu semua? Untuk menunjukkan eksistensinya? Kemahaannya? Kesuciannya? kekuatannya? Kebijaksanaannya? Kasihsayangnya? Dan apakah Tuhan membutuhkan jalan/cara itu semua? Agar manusia mengenal dirinya? Memahami dirinya? Mencintainya?

Apakah Tuhan harus di wujudkan sebagai benda agar manusia menyembahnya? Apakah Tuhan memiliki kemiripan fisik dengan apa yang di ciptakannya? Apakah Tuhan memerlukan sebuah “benda” agar sujud, doa dan permintaan hambanya bisa sampai kepadanya? Apakah Tuhan memiliki Tuhan lain dalam menjalankan kekuasaannya? Apakah Tuhan membagi – bagikan kekuasaannya kepada Tuhan – Tuhan lain? Apakah Tuhan membutuhkan semua itu?

Saya tertarik ketika salah seorang kawan menjelaskan bahwa Tuhannya “dilahirkan” untuk menjadi Tuhan dan menjadi jalan yang terang bagi manusia untuk menuju jalan sang Tuhan. Pertanyaannya, apakah manusia begitu bodoh akal dan pikirannya di mata Tuhan, sehingga Tuhan harus menjadi “manusia” terlebih dahulu agar manusia mengenal diriNya, mengenal KekuatanNya, mengenal kasihsayangNya, mengenal ciptaanNya, mengenal kemurahanNya dan lain – lainnya.

Saya berpendapat bahwa ketika Tuhan dipahami sebagai kekuatan tertinggi, sebagai pemilik semesta alam, pemilik alam jagat raya, maka Ia tidak membutuhkan manusia, malah manusialah yang membutuhkan dirinya? Meletakkan Tuhan pada tempat yang salah hanya mengakibatkan kita tidak mengenal Tuhan dalam “Zat” dirinya yang sebenarnya.

Saya percaya bahwa Tuhan begitu mengenal ciptaannya, mengenal dengan sangat baik kecenderungan – kecenderungan hamba – hambanya, baik yang patuh mau pun yang tidak patuh. Tapi ketika manusia malah berpikir bahwa Ia begitu mengenal Tuhan dengan sangat baik bahkan cara berfikir Tuhan itu sendiri, ini lah yang membuat manusia seolah lebih tahu apa yang pantas untuk manusia. Ini lah yang saya sebut manusia yang berfikir seperti Tuhan dan menjadikan dirinya sebagai Tuhan itu sendiri, pertanyaannya, apakah seseorang yang tetap menganggap bahwa Tuhan memerlukan “lahir” kedunia sebagai manusia untuk “mengenalkan” dirinya. Bukankah ia yang menciptakan dan mengetahui jiwa – jiwa hamba – hambanya? Tuhan menjadi “manusia” lalu “manusia” menjadi “Tuhan” begitu sulit saya pahami dan saya yakini.

Mengapa ia harus menjadi manusia? Mengapa ia harus dilahirkan dulu? Mengapa ia yang begitu agung, suci dan mulia harus merelakan dan merendahkan zatNya? Apakah Tuhan tidak memiliki “jalan” yang cerdas agar manusia tunduk kepada kemauanNya? Bukan malah sebaliknya? Logika bahwa Tuhan harus menjadi “manusia” memiliki pengertian bahwa hanya dengan cara beginilah manusia mengenal Tuhannya. Cara yang menurut manusia bukan? Bukan kah seharusnya Tuhan lah yang merancang “skenario” agar manusia mampu mengetahui, mengenal dan tunduk atas keinginan dan caraNya.

Apakah yang saya katakan salah …


Tentang wheresagaru

seorang penempuh jalan, yang mencari jalan menuju ridha-Nya, seorang musafir yang mencari cahaya-Nya, sebagai penerang menuju negeri akhirat ... negeri abadi.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.