Ni hao …?
Dahulu, waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah di tegur Ayah, karena kedapatan merokok sebatang rokok miliknya, lalu dengan bijaknya ia berkata. “Kalau kau sudah bekerja, kau baru bebas merokok.” Untuk menghindari dari hukuman tambahan darinya, aku memilih mengangguk dan mengiyakan saja petuah darinya.
Pengalaman merokok pertama kali, ku dapatkan ketika duduk di bangku SD kelas 6, selepas sekolah kami biasanya bersembunyi di belakang halaman sekolah, hanya untuk sekedar mengisap sebatang rokok, dan itu pun di habiskan oleh kami berempat.
Entah apa yang kurasakan pada saat itu, bersama teman – teman sekolah, kami merokok sepuasnya. Merokok saat itu membuatku merasa seperti laki – laki, cowok sejati. Kami lalu tertawa geli ketika membayangkan reaksi wajah Ayah atau Ibu, yang melihat kami merokok di sini, hukuman badan pasti tak terelakkan dan hukuman mental tak terbayangkan. Makanya kami memilih bersembunyi di sini dan merokok di halaman belakang sekolah dengan tenang.
Kami berempat memang kompak, selalu bersama dan selalu tertawa. Apalagi kalau sudah merokok bersama, dan kami tak pernah peduli ketika beberapa penumpang melihat kami dengan pandangan heran dan mungkin juga kesal, melihat kelakuan kami yang merokok di lantai atas bis, dan masih dengan seragam lengkap, seragam merah – putih kebanggaan.
Dahulu pada masa SD, ada sebuah bis tingkat trayek Grogol – Blok M, sayangnya saya lupa nomor bus tersebut. Selepas sekolah kami sering ke Blok M, sekedar jalan – jalan dan duduk – duduk di terminal Blok M, dan dengan bangga terselip sebuah rokok di tangan. Coba apa kata dunia saat itu, anak SD sudah merokok, dan kami tetap tak peduli apa pun kata mereka, dan juga semua pandangan heran atau sinis.
17 tahun telah berlalu, beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan anak salah satu Tulangku (paman). Ia seorang mahasiswa hukum di UIN, semester 4. Ternyata ia tidak hanya kuliah seperti kebanyakan mahasiswa lainnya. Ia sudah bekerja dan mencari uang sendiri, sebagai seorang guru privat, mengajar Matematika dan bahasa Inggris. Hmp, cerdas juga sepupuku ini, ujarku pelan.
Dari sepupuku inilah, awalnya ku dengar kembali kata tersebut, ketika ia menawarkan rokok padaku, aku pun hanya mengeleng pelan, ia jelaskan kalau dirinya sudah bebas untuk merokok. “Di rumah juga? Tanyaku. “Kan aku sudah bekerja bang, jadi Ayah tidak melarangku untuk merokok di rumah, bahkan kadang Ayah meminta rokokku. “Ibu bagaimana?” “Sama lah bang, kan sudah kerja aku,” ulangnya dengan bangga. Ya, rasa bangga itu, dulu yang membuatku sembunyi – sembunyi untuk merokok. Kali ini ia bangga tanpa harus sembunyi lagi untuk sekedar merokok.
Kata – katanya membuatku tersenyum. Tak kusangka kata – kata ini, ku dengar kembali setelah 17 tahun lamanya. Ternyata alasan bekerja masih di jadikan kata “sakti” untuk mensahkan dirinya untuk bebas merokok di dalam rumah. Lalu bagaimana dengan anak sekolah, anak kuliah, mereka belum bekerja? apakah mereka masih bersembunyi untuk sekedar merokok seperti jaman SD ku dulu?.
Masa SMP, aku sudah di bebaskan Ayah untuk merokok, ia tidak lagi marah kepadaku, bukan karena ia tidak ingin marah, tapi karena aku nya yang tidak bisa di nasehati saat itu. Tapi untuk menghindari dari “teriakan” keras Ibu, terpaksa aku tidak merokok di dalam rumah.
“Kalau kau sudah bekerja, kau bebas merokok” kata – kata ini terngiang lagi di kepalaku, pertanyaannya, apakah ada korelasi yang positif “bekerja dan bebas merokok”? Apakah ada hubungannya dengan “bekerja atau belum bekerja” dengan ijin merokok? Setahu saya merokok tidak butuh alasan apa pun, bekerja atau pun tidak bekerja, hanya sebuah alasan yang tidak masuk akal, kecuali sebuah alasan yang di cari – cari. Atau kita sering mendengar orang mengatakan ini … “Aku kan sudah bisa nyari duit sendiri, dan rokok yang ku beli dari duit ku sendiri. Mungkin alasan yang masuk akal, tapi tetap bukan sebuah alasan yang cerdas dan bukan pilihan yang rasional, ketika kita memilih untuk merokok.
Sekarang ini saya sudah memilih, dan berhenti total untuk tidak lagi merokok, alasannya tentu bukan karena saya tidak lagi bekerja. Alasan kedua, juga bukan karena saya ingin menghemat uang, tapi lebih dari sekedar alasan – alasan tersebut. Ini sebuah alasan untuk pilihan hidup sehat. Dan saya tidak membutuhkan alasan sudah bekerja, baru bebas memilih untuk hidup sehat tanpa rokok.
Sooo, untuk para perokok, please berhenti memberi kami racun dari asap rokokmu. Mengertilah jika berada di tempat – tempat umum, karena kami tidak menyukai asap racun dari rokokmu, dan tolonglah mengerti, dan tolonglah kami menjadi perokok pasif. You passion already within you, always start with what you have dan from where you are … Salaam(^^)

