Ni hao …
Beberapa hari yang lalu saya menumpang sebuah angkutan umum menuju kantor di bilangan Pancoran, dan entah kenapa pagi itu saya tiba – tiba saja ingin sekali menaiki metromini yang dulu sering saya naiki menuju sekolah, kuliah mau pun awal – awal bekerja.
Seperti biasanya, di jam – jam kerja, arus lalu lintas pagi ini pun agak berbeda dengan hari – hari sebelumnya, saya sering mengatakan kalau lalu lintas Jakarta seperti perasaan perempuan yang sulit di terka. Dan kali ini tebakan saya benar. Di depan saya, arus lalu lintas berjalan tersendat – sendat, bukan karena macet tapi karena sang sopirnya menjalankannya dengan pelan, hmp, mengapa saya tidak naik motor saja, kalau begini keadaannya pasti saya tiba di kantor lebih lama. Maklum saja, kursi baru terisi setengahnya, mungkin dia tidak ingin merugi bila mengantar kami hanya dengan sedikit penumpang. Di badan jalan, ribuan kendaraan beradu “mental” untuk bersabar dan berhati – hati untuk sampai ke tempat tujuan.
Aku yang duduk di bangku paling belakang sesekali melihat ke depanku, melihat keruwetan dan kemacetan yang tak pernah kunjung terurai, di tiap lampu merah jalan dan persimpangan pasti terjadi penumpukan, lampu merah yang berkedip merah tak di indahkan sebagian pengendara, ini lah “ajang” keterampilan yang harus di miliki setiap pengendara di Jakarta berzigzag ria dan terkadang itu menyenangkan buat sebagian orang.
Pukul 7 lewat 30 menit, saya tiba di Terminal Kampung Melayu, puluhan orang sudah menunggu di pinggir jalan, menunggu bus kesayangan mereka. Saya termasuk pribadi yang nyaman duduk – duduk di emperan jalan, di terminal mau pun di halte – halte bus, melihat keramaian dalam kesendirian membuat saya bersikap rendah hati dan memandang realitas sebagai kenyataan yang dekat.
Seruan menggunakan angkutan umum menuju ke kantor
Kota Jakarta dan pola transportasi massalnya yang tidak tertata rapi tentu akan membawa dampak yang buruk bagi tertibnya arus lalu lintas. Aktifitas warga Jakarta yang cepat membutuhkan sebuah sistem dan manajemen transportasi yang memudahkan mereka bergerak cepat dan dinamis. Kenyamanan dan keselamatan pun menjadi prioritas utama warga Jakarta.
Sebagian warga Jakarta akhirnya memilih menggunakan kendaraan pribadinya dengan alasan – alasan di atas, dan mereka tidak salah. Lihat saja bagaimana pemerintah mengelola angkutan massal yang ada, kebijakan yang tidak “memanusiawikan” penggunanya. Berdesak – desakan, pengemudi yang nakal dan liar dalam membawa kendaraannya, kejahatan dan pelecehan seksual yang terjadi di angkutan umum, dan hal – hal lainnya yang membuat warga Jakarta meninggalkan angkutan umum yang ada.
Sebenarnya saya pun terkadang merasakan hal yang sama, saya juga mengalami hal yang sama. Pada saat pulang kantor dan bis yang saya tumpangi sudah miring kekiri, penumpang di dalamnya berdesakan dan tanpa jarak, perempuan dan laki – laki pun berhimpitan dengan sangat rapat. Tentu saja keadaan ini membuat kaum perempuan sering merasakan “pelecehan” belum lagi para pencopet yang berkeliaran di pintu – pintu.
Saya hanya butuh 45 menit atau 1 jam bila menggunakan kendaraan pribadi, tapi jangan berharap yang sama jika saya menggunakan kendaraan umum, bisa 1 jam lebih bahkan dua jam tergantung lalu lintas di depan saya. Menggunakan angkutan umum sudah tidak lagi efisien di Jakarta, saya rugi waktu dan uang jika setiap hari menggunakan angkutan umum ini.
Jumlah kendaraan yang ada di Jakarta
Dari semua angkutan umum yang ada, baik yang di kelola pemerintah daerah mau pun yang di miliki individu dan pengusaha yang berada di payung organda, pelayanan dan kondisinya begitu mencemaskan, mungkin hanya bus Trans Jakarta yang lumayan baik, walau pun dari sisi pelayanannya butuh di tingkatkan.
Pemerintah daerah (Dishub) sepertinya tidak siap untuk mengelola sistem dan manajemen transportasi dengan baik. Pilihan masyarakat Jakarta yang memilih kendaraan peribadi menambah keruwetan yang ada, dan meledakkan volume kendaraan di jalan pun tak terhindari lagi.
Jumlah kendaraan di Jakarta tahun ini membengkak menjadi 9 juta lebih dan pertumbuhan rata – rata pertumbuhan dalam 5 tahun terakhir berkisar 9%-10% pertahun, dengan perincian 6 juta lebih kendaraan bermotor roda dua, 2 juta lebih mobil pribadi, angkutan umum 3 ratus ribu lebih dan truk sebanyak 5 ratus lebih.
Kebutuhan perjalanan di Jakarta pun harus melayani 17,1 juta perjalanan perharinya, dengan panjang jalan hanya 7,650 km dan luas jalan 40,1 km2 (6,2% dari luas wilayah DKI Jakarta) takkan mencukupi dan melayani arus lalu lintas dengan baik, apalagi pertumbuhan panjang jalan hanya berkisar kurang lebih 0,01% pertahun.
Lalu apakabarnya dengan penduduk di Jakarta, data kependudukan mencatat 8.483.920 jiwa, namum pada hari dan siang hari, angka tersebut bertambah besar dengan datangnya para pekerja dari kota – kota satelit di Jakarta, seperti bekasi, Tangerang, Bogor dan Depok. Di kepala saya sudah terbayang bagaimana jika setengahnya saja berangkat kerja, sekolah, kuliah pada hari dan jam yang sama, tentu menyebabkan arus lalu lintas menjadi “tidak biasa.”
Berangkat lebih awal pulang lebih cepat
Saya memutuskan untuk berangkat lebih awal agar saya bisa pulang lebih cepat utnuk menghindari kemacetan dan untungnya kantor di mana saya bekerja menerapkan “smart time” bagi karyawannya. Kebijakan cerdas ini tentu tidak saya sia siakan begitu saja. Pukul 7 saya sudah tiba di kantor dan bergegas pulang bila jam menunjukkan pukul setengah 5 sore.
Dengan begini saya terhindar dari kemacetan dan antrian panjang di jalan. Lalu bagaimana dengan rekan – rekan yang perusahaannya tidak menerapkan kebijakan yang sama. Tentu saja jika ia memaksakan untuk pulang pada jam pulang kerja, ia akan terjebak dengan kemacetan yang sudah menjadi rutinitas di Jakarta.
Memilih untuk pulang lebih lama tentu mengorbankan banyak hal dan itu menjadi pilihan yang berat tentunya. Untuk yang menggunakan kendaraan pribadi mungkin lebih aman, tapi bagaimana dengan yang menggunakan angkutan umum?
Peta macet ala Angga Cipta
Angga Cipta membuat sebuah karya yang cerdas dan membantu bagi siapa saja untuk mengetahui simpul – simpul dan titik – titik kemacetan di Jakarta. Coba saja datang ke ruang rupa di Tebet, dalam pameran “Diperkosa kota.”
Angga mencoba mengilustrasikan fenomena kemacetan Jakarta dan kita bisa melihat sendiri daerah mana saja yang jalannya selalu macet dan jalan mana yang selalu lancar. Ia pun membuat karyanya dalam bentuk interaktif dan mempersilahkan pengunjung pameran untuk ikut memberi titik di mana saja pusat kemacetan di Jakarta. Dengan ikon – ikon yang di sediakan, seperti bus kota, bajaj, truk dan ikon – ikon lainnya, perancang dan pengunjung dapat berbagi pengalaman kemacetan yang pernah “memperkosa” mereka.
Solusi untuk hari ini
Kemacetan dan gilanya jalan di Jakarta tentu tidak terjadi begitu saja, tidak datang hari ini, atau seminggu yang lalu atau pun juga sebulan sebelumnya. Ini terjadi ketika pemerintah daerah tidak siap dalam membaca tingginya pertumbuhan industri kendaraan bermotor yang ada, dan pesatnya pertumbuhan ekonomi di Jakarta dan di permudah lagi dengan sistem pembiayaan secara kredit yang mudah meriah.
Salah satu penyumbang terbesar kemacetan adalah menumpuknya kendaraan pribadi, baik motor dan mobil. Solusi yang terbaik untuk hari ini pun tidak ada, tapi solusi untuk 5 – 10 tahun mendatang harus sudah mulai di pikirkan dan serius untuk mencari jalan mengurai kemacetan yang terjadi.
Jika pemerintah masih tidak serius dalam menangani permasalah ini, bukan tidak mungkin tanpa harus menunggu 5 tahun lagi “tsunami” kemacetan ini akan membuat Jakarta lumpuh dan ini akan membuat cost yang besar, belum lagi dampak lingkungan yang di akibatkan dari kemacetan tersebut.
Pemerintah takkan sanggup bekerja sendiri dalam hal ini, sudah saatnya pemerintah mengandeng masyarakat umum, industri otomotif, kepolisian, ahli lingkungan hidup, ahli transportasi untuk menemukan kebijakan yang strategis dan tepat agar kemacetan mulai terurai dan berkompromi untuk kepentingan yang lebih besar. People may be uneducated but they are not stupid, wassalam.
Sumber tulisan :
www.kependudukancapil.jakarta.go.id

