Kemarin sore, saya mengisi bensin di sebuah SPBU Pertamina di kawasan Radin Inten , karena sudah terbiasa dan hafal bagaimana menghemat membayar biaya pengisian, saya tahu persis takaran pasnya. “Bang isi 12.000 ribu ya, ujar saya sambil memberikan uang kertas 10 ribuan dan selembar uang 2 ribu, dan biasanya hamper penuh . Siap pak, ujarnya sambil tersenyum kepada saya, kita mulai dari NOL ya pak.
Tidak sampai 1 menit, tangki bensin pun penuh, tumben kali ini petugasnya tidak lalai dalam mengisi dan membuat motor saya tertumpah dengan bensin yang meluber, kali ini ia begitu sabar mengawasinya hingga tak ada satu tetes pun yang tertumpah.
Mata saya pun melihat angka di jarum penunjuk di pengisian tersebut. 11.280 rupiah, sedangkan tangki saya sudah penuh. Bang Tanya saya dengan pelan, tolong kembaliannya, 720 nya ujar saya, karena saya memberikannya uang pas. Maaf dik, (petugas ini memanggil saya dik, mungkin karena tampang saya yang imut kali ya hehehe) tidak ada kembalian kami tidak di bekali uang receh ujarnya lalu berlalu di depan saya.
Hmp, kalau setiap pengisian bensin selalu lebih begini, berarti rugi donk saya, ujarku ketika meninggalkan SPBU tersebut. Coba kawan renungkan, jika seratus orang yang bernasib saya pasti SPBU tersebut menangguk untung lebih dari sekedar jasanya. Bagaimana kalau seribu orang, sedangkan di Jakarta saja, ada 2 juta lebih pengendaraan kendaraan bermotor.
Oooh, untungnya kau SPBU, untung karena tidak memiliki kebijakan mengembalikan kembalian yang tidak bisa di bayarkan. Tapi kalau saya usul, bagaimana kalau fihak manajemen SPBU Pertamina memberikan saja beberapa permen agar para pelanggannya tidak merugi. Bagaimana ?
