Sajak Kerinduan
Agustus 28th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
rindu yang panjang, bagai malam yang tak berbintang-seperti bulan yang kesepian-yg merindukan surya di setiap fajar-tahukah kau tentang mengapa angin di ciptakan-karena Tuhan ingin “mendinginkan” dada2 para “pejalan malam”-dari kesulitan dan kesempitan-dari kemalangan dan kekalutan
Masih ingat dengan jargon “Alhamdulillah sudah”? pekan pertama Ramadhan kita bayar zakat yuuuk !!!
Agustus 4th, 2011 § 3 Komentar
Kawan – kawan (Muslim) semua, masih ingat dengan ajakan “Alhamdulillah sudah” itu looooh ajakan membayar zakat di awal Ramadhan yang di kampanyekan oleh sebuah lembaga amil zakat nasional. Lembaga ini mengajak kita untuk mengubah kebiasaan dalam membayar zakat yang biasa kita lakukan.
Nah karena hari ini jatuh di pekan pertama, nyoooook nyak dan babeh kita sambut dengan suka cita ajakannya, dan jangan lupa ajak – ajak tuch si Mamat, si Ujang, si Dul, dan si Khodir, jangan lupa juga mpok Monah dan Abang Akung.
Udaaah pada gajiaan kaan, yang bisnis juga pasti udah banjir duit tuch di lemari besinya. Sekarang, mpok abang dan nyakbabeh kita sisihkan sebagian gaji kita untuk membayar kewajiban yang sudah di tentukan oleh agama, ngga besar kok. Dan ngga bakal menghabiskan gaji kita yang ratusan juta kok (gaji saya sih ngga sampai segitunya^^), apalagi janji Allah kan sudah jelas, apa yang kita berikan, akan dibalas kembali olehNya, apakah berlipat balasannya atau tidak kita serahkan saja pada kebijaksanaanNya.
Kawan – kawan (Muslim) yang beribadah shaum, gimana hari ketiga kita berpuasa, yang terbiasa dengan puasa tentu bukanlah hal yang berat bukan, tapi bagaimana dengan yang hanya puasa di bulan Ramadhan saja? Ya sudah, jangan ngeluh. Tuch si Jimmy bilangin jangan lirik es kelapa muda mulu hehehehe, Mpok Nori jangan lemas begitu bawaannya mentang – mentang puasa, tahan saja perut laparmu. Jangan lupa yang terpenting adalah niat di hati, menjaga pikiran dan juga perbuatan.
Back to Ramadhan speak^^, biasanya di bulan Ramadhan pengeluaran kita pasti lebih besar dari biasanya bukan? Bukber bareng teman – teman, balas dendam dengan memakan apa saja di depan mata, melakukan wisata rohani bersama teman kuliah atau rekan kerja, beli sepatu baru, celana baru, atau apa pun yang baru. Padahal Ramadhan kan tempat kita berhemat dalam hal apa saja. Tidak hanya materi tapi juga non materi. Ramadhan kata ustad – ustad (yang sering saya dengar di ceramah) tempat kita ber uzlah(mengasingkan diri) pada apa saja yang membelokkan hati, pikiran dan perasaan kita pada tujuan ibadah.
Nah dari pada kita menghabiskan uang pada hal – hal yang sifatnya materi saja, lebih baik kita cepat – cepat sisihkan untuk membayar zakat, agar duit kita tidak habis terpakai untuk “ritual rohani” yang keliru.
Zakat kita untuk mereka yang membutuhkan looooh, agar mereka juga bahagia dalam menyambut bulan suci ini, bisa untuk pendidikan mereka, uang saku mereka, kebutuhan perlengkapan sekolah, untuk apa saja yang mereka sulit untuk memenuhinya. Walau kita tidak bisa membuat mereka bahagia selalu, setidaknya di hari besar ini rasa sebagai keluarga sesama agama telah tertunaikan.
Soooooo, kawan – kawan (muslim) semua, yuuuuk tengok isi dompet, Alhamdulillah lembaran merah dan biru terlipat tebal di dompet kita, sampai dompetmu merasa sesak tak bernafas karena begitu tebalnya uang yang kita bawa. Nah sekarang kita jalan bersama ke gerai – gerai tempat membayar zakat di mana saja. Sudah jangan pilih – pilih, bayar zakat di lembaga amil zakat mana saja juga boleh, yang penting lembaga tersebut terpercaya dan amanah pastinya.
Kawan – kawan (muslim) semua, karena membayar zakat kita sudah terpenuhi, Ramadhan kali ini pasti lebih khusyuk karena kewajiban sudah tertunaikan. Sekarang yuuuuuuk kita ramaikan dengan ibadah – ibadah yang mendekatkan kita pada sang Khalik.
Nah ini foto gerai “alhamdulillah sudah” di Plaza Semanggi, lantai Dasar …
Sulit saya percaya, kalau Tuhan “dilahirkan” agar manusia mengenal diriNya
Juli 26th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Beberapa hari yang lalu saya membaca buku – buku tentang Tuhan dan Dewa – dewa, bagimana sejarahnya ia menjadi Tuhan lalu prosesi ia di angkat menjadi Tuhan, lalu menjadi wujud yang tertinggi dan wajib di sembah oleh manusia.
Saya orang yang tertarik dengan apa saja, apalagi sesuatu yang di luar pemahaman dan nalar saya. Membaca, menelaah lalu mengkritisinya. Itu menjadikan akal saya mampu untuk berfikir logis, akurat dan tematis (melibatkan banyak konsepsi ilmu). Tapi terkadang ketika kita berbicara masalah yang begitu sensitif (keyakinan) akal kita seperti otomatis mengunci, sehingga akal yang seharusnya kita gunakan dengan maksimal malah terjerembab pada “kebisuan” untuk belajar dan mencari tahu sesuatu dengan benar.
Tanpa bermaksud mengusik suatu agama/keyakinan tertentu, maka ijinkan saya untuk berfikir, merenung, mengkaji dan mengkritisi apa yang saya baca. Karena sesuatu yang telah di “umumkan” dan di sampaikan di tengah masyarakat (kitab, brosur dan sejenisnya) bukanlah sesuatu pemahaman yang tidak boleh di kritisi, menerima dan meyakini sesuatu tanpa ilmu hanya menyebabkan keyakinan itu sendiri kosong dan rapuh. Tentu saja, setiap kita juga harus berani jujur untuk menjadi “penilai” apa yang kita tulis sendiri dan saya tidak boleh keluar dari konteks berfikir cerdas dan kritis dalam hal ini.
Tolong ijinkan saya untuk mengkritisi apa yang saya baca, dan saya harap siapa pun yang membacanya tidak merasa sedang saya sudutkan, baik keyakinannya mau pun ajaran agamanya. Karena pembahasan ini pasti mengundang pro dan kontra maka penjelasan dan jawaban hanya akan saya batasi dalam kerangka berfikir jernih dan bebas dari prasangka dan sentimen terhadap apa yang saya kritisi.
Hal yang pertama yang saya ingin kritisi adalah, apakah Tuhan perlu dilahirkan dari seorang manusia untuk bisa “hidup” di dunianya manusia? Apakah Tuhan “bergantung” terhadap sesuatu yang membuat dia dan manusia berinteraksi? Apakah Tuhan membutuhkan perantara sesuatu yang menjadikan dirinya mampu diraba, dilihat dan juga di sentuh? Apakah Tuhan memerlukan itu semua? Untuk menunjukkan eksistensinya? Kemahaannya? Kesuciannya? kekuatannya? Kebijaksanaannya? Kasihsayangnya? Dan apakah Tuhan membutuhkan jalan/cara itu semua? Agar manusia mengenal dirinya? Memahami dirinya? Mencintainya?
Apakah Tuhan harus di wujudkan sebagai benda agar manusia menyembahnya? Apakah Tuhan memiliki kemiripan fisik dengan apa yang di ciptakannya? Apakah Tuhan memerlukan sebuah “benda” agar sujud, doa dan permintaan hambanya bisa sampai kepadanya? Apakah Tuhan memiliki Tuhan lain dalam menjalankan kekuasaannya? Apakah Tuhan membagi – bagikan kekuasaannya kepada Tuhan – Tuhan lain? Apakah Tuhan membutuhkan semua itu?
Saya tertarik ketika salah seorang kawan menjelaskan bahwa Tuhannya “dilahirkan” untuk menjadi Tuhan dan menjadi jalan yang terang bagi manusia untuk menuju jalan sang Tuhan. Pertanyaannya, apakah manusia begitu bodoh akal dan pikirannya di mata Tuhan, sehingga Tuhan harus menjadi “manusia” terlebih dahulu agar manusia mengenal diriNya, mengenal KekuatanNya, mengenal kasihsayangNya, mengenal ciptaanNya, mengenal kemurahanNya dan lain – lainnya.
Saya berpendapat bahwa ketika Tuhan dipahami sebagai kekuatan tertinggi, sebagai pemilik semesta alam, pemilik alam jagat raya, maka Ia tidak membutuhkan manusia, malah manusialah yang membutuhkan dirinya? Meletakkan Tuhan pada tempat yang salah hanya mengakibatkan kita tidak mengenal Tuhan dalam “Zat” dirinya yang sebenarnya.
Saya percaya bahwa Tuhan begitu mengenal ciptaannya, mengenal dengan sangat baik kecenderungan – kecenderungan hamba – hambanya, baik yang patuh mau pun yang tidak patuh. Tapi ketika manusia malah berpikir bahwa Ia begitu mengenal Tuhan dengan sangat baik bahkan cara berfikir Tuhan itu sendiri, ini lah yang membuat manusia seolah lebih tahu apa yang pantas untuk manusia. Ini lah yang saya sebut manusia yang berfikir seperti Tuhan dan menjadikan dirinya sebagai Tuhan itu sendiri, pertanyaannya, apakah seseorang yang tetap menganggap bahwa Tuhan memerlukan “lahir” kedunia sebagai manusia untuk “mengenalkan” dirinya. Bukankah ia yang menciptakan dan mengetahui jiwa – jiwa hamba – hambanya? Tuhan menjadi “manusia” lalu “manusia” menjadi “Tuhan” begitu sulit saya pahami dan saya yakini.
Mengapa ia harus menjadi manusia? Mengapa ia harus dilahirkan dulu? Mengapa ia yang begitu agung, suci dan mulia harus merelakan dan merendahkan zatNya? Apakah Tuhan tidak memiliki “jalan” yang cerdas agar manusia tunduk kepada kemauanNya? Bukan malah sebaliknya? Logika bahwa Tuhan harus menjadi “manusia” memiliki pengertian bahwa hanya dengan cara beginilah manusia mengenal Tuhannya. Cara yang menurut manusia bukan? Bukan kah seharusnya Tuhan lah yang merancang “skenario” agar manusia mampu mengetahui, mengenal dan tunduk atas keinginan dan caraNya.
Apakah yang saya katakan salah …
Alhamdulillah sudah !!! Sudah belum kawan (muslim) semua …
Juli 25th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Alhamdulillah sudah? Apa yang Alhamdulillah sudah, begitu pertanyaan saya ketika melihat sebuah iklan teaserdi sebuah situs republika online. Iklan banner itu cukup “menganggu” saya ketika saya “meluncur” di setiap membaca halaman – halaman berita di situs ini.
Dan saya yakin siapa pun yang melihat pasti juga merasakan hal yang sama, setidaknya punya rasa ingin tahu yang kuat, apa sih yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh iklan ini? apalagi jenis iklan model teaser ini memang sengaja di buat oleh perancang iklannya. Dengan maksud menggoda pembacanya, dan sepertinya saya pun cukup “tergoda” untuk menelusuri Alhamdulillah sudah dan bertanya banyak kepada mbahnya jagat internet kakek gugeel.
Penelusuran saya akhirnya menemukan sebuah situs mengenai Alhamdulillah sudah, klik saja alhamdulillahsudah.com di situ menyajikan sebuah informasi mengenai zakat, apa dan mengapa harus membayar zakat, manfaat membayar zakat dan tujuan di baliknya. Ternyata yang di maksudkan dengan Alhamdulillah sudah, bermaksud mengajak kesadaran baru di tengah masyarakat muslim bahwa membayar zakat tidak perlu harus menunggu pekan terakhir di bulan puasa.
Bukankah kita mengenal pembayaran zakat fitrah di akhir – akhir Ramadhan? Tapi Alhamdulillah sudah disini ingin mengajak kita untuk membayar zakat fitrah di awal – awal Ramadhan. Sesuatu hal yang baru di tengah kuatnya pemahaman dan budaya dalam masyarakat muslim tentang zakat fitrah.
Ingin mengubah pemahaman dan budaya tentu memerlukan “tenaga” yang kuat. Semua resource tentu harus di gunakan. Dengan padatnya arus komunikasi di dunia media? Maka tantangan terberat dalam kampanye Alhamdulillah sudah ini adalah pola pikir masyarakat yang sudah “berlumut” dan itu tidak mudah untuk “dibersihkan” dan di “lukis” kembali dengan pemahaman yang baru.
Tapi saya percaya dengan kekuatan kejujuran dan keinginan yang kuat untuk selalu mengajak pada pembaharuan di tengah masyarakat, tentang bagaimana zakat itu mudah di kelola jauh – jauh hari dan di salurkan dengan cepat dan tepat, sebelum masyarakat kita “terjebak” dengan budaya – budaya yang terjadi di bulan Ramadhan.
Dan tentu saja ini sebuah ide yang bagus dan mengelitik, mendorong masyarakat muslim untuk membayar zakat di awal – awal. Saya pun berharap dana zakat dapat di kelola secara profesional dan amanah. Sehingga dana – dana zakat itu dapat menciptakan pasar – pasar ekonomi bagi kaum muslim yang terpinggirkan oleh kerasnya jaman. Dan kemudian menciptakan pembangunan sosial dan ekonomi secara utuh dan integral.
Lalu bagaimana dengan anda? Di awal Ramadhan ini, insya Allah saya akan ikut berpartisipasi dalam kampanye Alhamdulillah sudah, Alhamdulillah sudah membayar zakat, dan Alhamdulillah sudah ikut membantu menjadi bagian dalam pembangunan rumah ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Lalu bagaimana dengan anda (muslim), apakah anda tertarik dengan Alhamdulillah sudah ini dan berniat merubah habit kita selama ini?
ini “balon” yang sering saya lihat di beberapa ruas jalan di Jakarta.
“Kalau kau sudah bekerja, kau baru bebas merokok”
Juli 6th, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Ni hao …?
Dahulu, waktu saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah di tegur Ayah, karena kedapatan merokok sebatang rokok miliknya, lalu dengan bijaknya ia berkata. “Kalau kau sudah bekerja, kau baru bebas merokok.” Untuk menghindari dari hukuman tambahan darinya, aku memilih mengangguk dan mengiyakan saja petuah darinya.
Pengalaman merokok pertama kali, ku dapatkan ketika duduk di bangku SD kelas 6, selepas sekolah kami biasanya bersembunyi di belakang halaman sekolah, hanya untuk sekedar mengisap sebatang rokok, dan itu pun di habiskan oleh kami berempat.
Entah apa yang kurasakan pada saat itu, bersama teman – teman sekolah, kami merokok sepuasnya. Merokok saat itu membuatku merasa seperti laki – laki, cowok sejati. Kami lalu tertawa geli ketika membayangkan reaksi wajah Ayah atau Ibu, yang melihat kami merokok di sini, hukuman badan pasti tak terelakkan dan hukuman mental tak terbayangkan. Makanya kami memilih bersembunyi di sini dan merokok di halaman belakang sekolah dengan tenang.
Kami berempat memang kompak, selalu bersama dan selalu tertawa. Apalagi kalau sudah merokok bersama, dan kami tak pernah peduli ketika beberapa penumpang melihat kami dengan pandangan heran dan mungkin juga kesal, melihat kelakuan kami yang merokok di lantai atas bis, dan masih dengan seragam lengkap, seragam merah – putih kebanggaan.
Dahulu pada masa SD, ada sebuah bis tingkat trayek Grogol – Blok M, sayangnya saya lupa nomor bus tersebut. Selepas sekolah kami sering ke Blok M, sekedar jalan – jalan dan duduk – duduk di terminal Blok M, dan dengan bangga terselip sebuah rokok di tangan. Coba apa kata dunia saat itu, anak SD sudah merokok, dan kami tetap tak peduli apa pun kata mereka, dan juga semua pandangan heran atau sinis.
17 tahun telah berlalu, beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan anak salah satu Tulangku (paman). Ia seorang mahasiswa hukum di UIN, semester 4. Ternyata ia tidak hanya kuliah seperti kebanyakan mahasiswa lainnya. Ia sudah bekerja dan mencari uang sendiri, sebagai seorang guru privat, mengajar Matematika dan bahasa Inggris. Hmp, cerdas juga sepupuku ini, ujarku pelan.
Dari sepupuku inilah, awalnya ku dengar kembali kata tersebut, ketika ia menawarkan rokok padaku, aku pun hanya mengeleng pelan, ia jelaskan kalau dirinya sudah bebas untuk merokok. “Di rumah juga? Tanyaku. “Kan aku sudah bekerja bang, jadi Ayah tidak melarangku untuk merokok di rumah, bahkan kadang Ayah meminta rokokku. “Ibu bagaimana?” “Sama lah bang, kan sudah kerja aku,” ulangnya dengan bangga. Ya, rasa bangga itu, dulu yang membuatku sembunyi – sembunyi untuk merokok. Kali ini ia bangga tanpa harus sembunyi lagi untuk sekedar merokok.
Kata – katanya membuatku tersenyum. Tak kusangka kata – kata ini, ku dengar kembali setelah 17 tahun lamanya. Ternyata alasan bekerja masih di jadikan kata “sakti” untuk mensahkan dirinya untuk bebas merokok di dalam rumah. Lalu bagaimana dengan anak sekolah, anak kuliah, mereka belum bekerja? apakah mereka masih bersembunyi untuk sekedar merokok seperti jaman SD ku dulu?.
Masa SMP, aku sudah di bebaskan Ayah untuk merokok, ia tidak lagi marah kepadaku, bukan karena ia tidak ingin marah, tapi karena aku nya yang tidak bisa di nasehati saat itu. Tapi untuk menghindari dari “teriakan” keras Ibu, terpaksa aku tidak merokok di dalam rumah.
“Kalau kau sudah bekerja, kau bebas merokok” kata – kata ini terngiang lagi di kepalaku, pertanyaannya, apakah ada korelasi yang positif “bekerja dan bebas merokok”? Apakah ada hubungannya dengan “bekerja atau belum bekerja” dengan ijin merokok? Setahu saya merokok tidak butuh alasan apa pun, bekerja atau pun tidak bekerja, hanya sebuah alasan yang tidak masuk akal, kecuali sebuah alasan yang di cari – cari. Atau kita sering mendengar orang mengatakan ini … “Aku kan sudah bisa nyari duit sendiri, dan rokok yang ku beli dari duit ku sendiri. Mungkin alasan yang masuk akal, tapi tetap bukan sebuah alasan yang cerdas dan bukan pilihan yang rasional, ketika kita memilih untuk merokok.
Sekarang ini saya sudah memilih, dan berhenti total untuk tidak lagi merokok, alasannya tentu bukan karena saya tidak lagi bekerja. Alasan kedua, juga bukan karena saya ingin menghemat uang, tapi lebih dari sekedar alasan – alasan tersebut. Ini sebuah alasan untuk pilihan hidup sehat. Dan saya tidak membutuhkan alasan sudah bekerja, baru bebas memilih untuk hidup sehat tanpa rokok.
Sooo, untuk para perokok, please berhenti memberi kami racun dari asap rokokmu. Mengertilah jika berada di tempat – tempat umum, karena kami tidak menyukai asap racun dari rokokmu, dan tolonglah mengerti, dan tolonglah kami menjadi perokok pasif. You passion already within you, always start with what you have dan from where you are … Salaam(^^)
SBY pak membaca saya surat marah dengan
Juni 23rd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Ni hao …
Hari yang 3 lalu, mengirim saya SBY kepada, curhat Indonesia mengkuatirkan sangat. Banyak begitu bangsa persoalan belum yang selesaikan. Ekonomi buruknya, carut politik marut, sosial kesenjangan, kualitas buruk pendidikan, yang leadership tidak pemimpin lain – lainnya banyak.
Seorang presiden sebagai, harap saya sejati pemimpin untuk mampu pertama menjadi yang, di depan berdiri rakyat menjadi untuk dalam terdepan mencontohkan bagaimana terbaik yang anak sebagai bangsa.
Butuh rakyat bijak pemimpin, mereka peduli terhadap, mereka menyayangi, lemah pelindung yang di mereka antara, bapak menjadi yatim piatu anak, janda – janda pelindung ketidakberdaya dari. Keluarga menjaga kejahatan dari. Mereka ingin kan seperti pemimpin itu.
SBY menjadi bisakah? Di inginkan yang Indonesia rakyat, butuh rakyat kesejahteraan, keamanan butuh, kestabilan butuh, pendidikan butuh. Butuh rakyat mu nyanyian, butuh tidak sandiwara, citra tidak butuh, janjji butuh tidak, bijak kata kata butuh tidak. Butuh rakyat bukti, kampanye seperti SBY kan pidato. Kah bisa?
Tulisan ini buat saya untuk mendengar SBY, berharap dan mengerti ia, memahami ia, merasakan dan semua kekuatiran, kecemasan, keresahan, kebingungan Indonesia rakyat merasa yang memiliki tidak sejati pemimpin mereka buat.
SBY wahai kau kah mendengar? Harap ku tuli tidak kau, harap ku mendengar kau nyanyian seperti dendangkan ini selama, sampai lalu kapan, menanggih kami mu janji – janji, hutang adalah janji, itu dan terbayar tidak, kau jika tidak nya memenuhi.
Depan pemilu, harap ku tidak Demokrat pilih di, hanya janji mereka janji tinggal, di tertinggal bibir di saja, semua pembohongnya, sendiri sibuk dengannya, uang penganti di keluarkan kampanye sebagai, modal balik mereka visi, harta lebih mreka misi, jangan di lagi pilih, Demokrat janji memenuhi tak.
Depan pemilu mengerti rakyat semoga memberikan dan pelajaran tidak agar rakyat lagi menipu janji – janji dan pemilu saat, menghina mereka, masih jika lagi menipu kata – kata dengan bijak, menjijikan sangat mereka yang janji penuhi tak. Di korbankan rakyat, menderita dengan yang kebohongan yang apa lakukan di Demokrat orang – orang.
Rakyat saatnya memilih yang jujur, rakyat pada peduli, bangsa pada peduli, kemakmurat bangsa pada peduli, hidup yang sederhana politisi para, silau tidak harta pada, politisi adakah seperti ada itu. Indonesia rakyat sosok merindukkan itu seperti.
Wassalam.
Naik angkutan umum di hari kerja? Hari ini saja … besok – besok tidak.
Juni 22nd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Ni hao …
Beberapa hari yang lalu saya menumpang sebuah angkutan umum menuju kantor di bilangan Pancoran, dan entah kenapa pagi itu saya tiba – tiba saja ingin sekali menaiki metromini yang dulu sering saya naiki menuju sekolah, kuliah mau pun awal – awal bekerja.
Seperti biasanya, di jam – jam kerja, arus lalu lintas pagi ini pun agak berbeda dengan hari – hari sebelumnya, saya sering mengatakan kalau lalu lintas Jakarta seperti perasaan perempuan yang sulit di terka. Dan kali ini tebakan saya benar. Di depan saya, arus lalu lintas berjalan tersendat – sendat, bukan karena macet tapi karena sang sopirnya menjalankannya dengan pelan, hmp, mengapa saya tidak naik motor saja, kalau begini keadaannya pasti saya tiba di kantor lebih lama. Maklum saja, kursi baru terisi setengahnya, mungkin dia tidak ingin merugi bila mengantar kami hanya dengan sedikit penumpang. Di badan jalan, ribuan kendaraan beradu “mental” untuk bersabar dan berhati – hati untuk sampai ke tempat tujuan.
Aku yang duduk di bangku paling belakang sesekali melihat ke depanku, melihat keruwetan dan kemacetan yang tak pernah kunjung terurai, di tiap lampu merah jalan dan persimpangan pasti terjadi penumpukan, lampu merah yang berkedip merah tak di indahkan sebagian pengendara, ini lah “ajang” keterampilan yang harus di miliki setiap pengendara di Jakarta berzigzag ria dan terkadang itu menyenangkan buat sebagian orang.
Pukul 7 lewat 30 menit, saya tiba di Terminal Kampung Melayu, puluhan orang sudah menunggu di pinggir jalan, menunggu bus kesayangan mereka. Saya termasuk pribadi yang nyaman duduk – duduk di emperan jalan, di terminal mau pun di halte – halte bus, melihat keramaian dalam kesendirian membuat saya bersikap rendah hati dan memandang realitas sebagai kenyataan yang dekat.
Seruan menggunakan angkutan umum menuju ke kantor
Kota Jakarta dan pola transportasi massalnya yang tidak tertata rapi tentu akan membawa dampak yang buruk bagi tertibnya arus lalu lintas. Aktifitas warga Jakarta yang cepat membutuhkan sebuah sistem dan manajemen transportasi yang memudahkan mereka bergerak cepat dan dinamis. Kenyamanan dan keselamatan pun menjadi prioritas utama warga Jakarta.
Sebagian warga Jakarta akhirnya memilih menggunakan kendaraan pribadinya dengan alasan – alasan di atas, dan mereka tidak salah. Lihat saja bagaimana pemerintah mengelola angkutan massal yang ada, kebijakan yang tidak “memanusiawikan” penggunanya. Berdesak – desakan, pengemudi yang nakal dan liar dalam membawa kendaraannya, kejahatan dan pelecehan seksual yang terjadi di angkutan umum, dan hal – hal lainnya yang membuat warga Jakarta meninggalkan angkutan umum yang ada.
Sebenarnya saya pun terkadang merasakan hal yang sama, saya juga mengalami hal yang sama. Pada saat pulang kantor dan bis yang saya tumpangi sudah miring kekiri, penumpang di dalamnya berdesakan dan tanpa jarak, perempuan dan laki – laki pun berhimpitan dengan sangat rapat. Tentu saja keadaan ini membuat kaum perempuan sering merasakan “pelecehan” belum lagi para pencopet yang berkeliaran di pintu – pintu.
Saya hanya butuh 45 menit atau 1 jam bila menggunakan kendaraan pribadi, tapi jangan berharap yang sama jika saya menggunakan kendaraan umum, bisa 1 jam lebih bahkan dua jam tergantung lalu lintas di depan saya. Menggunakan angkutan umum sudah tidak lagi efisien di Jakarta, saya rugi waktu dan uang jika setiap hari menggunakan angkutan umum ini.
Jumlah kendaraan yang ada di Jakarta
Dari semua angkutan umum yang ada, baik yang di kelola pemerintah daerah mau pun yang di miliki individu dan pengusaha yang berada di payung organda, pelayanan dan kondisinya begitu mencemaskan, mungkin hanya bus Trans Jakarta yang lumayan baik, walau pun dari sisi pelayanannya butuh di tingkatkan.
Pemerintah daerah (Dishub) sepertinya tidak siap untuk mengelola sistem dan manajemen transportasi dengan baik. Pilihan masyarakat Jakarta yang memilih kendaraan peribadi menambah keruwetan yang ada, dan meledakkan volume kendaraan di jalan pun tak terhindari lagi.
Jumlah kendaraan di Jakarta tahun ini membengkak menjadi 9 juta lebih dan pertumbuhan rata – rata pertumbuhan dalam 5 tahun terakhir berkisar 9%-10% pertahun, dengan perincian 6 juta lebih kendaraan bermotor roda dua, 2 juta lebih mobil pribadi, angkutan umum 3 ratus ribu lebih dan truk sebanyak 5 ratus lebih.
Kebutuhan perjalanan di Jakarta pun harus melayani 17,1 juta perjalanan perharinya, dengan panjang jalan hanya 7,650 km dan luas jalan 40,1 km2 (6,2% dari luas wilayah DKI Jakarta) takkan mencukupi dan melayani arus lalu lintas dengan baik, apalagi pertumbuhan panjang jalan hanya berkisar kurang lebih 0,01% pertahun.
Lalu apakabarnya dengan penduduk di Jakarta, data kependudukan mencatat 8.483.920 jiwa, namum pada hari dan siang hari, angka tersebut bertambah besar dengan datangnya para pekerja dari kota – kota satelit di Jakarta, seperti bekasi, Tangerang, Bogor dan Depok. Di kepala saya sudah terbayang bagaimana jika setengahnya saja berangkat kerja, sekolah, kuliah pada hari dan jam yang sama, tentu menyebabkan arus lalu lintas menjadi “tidak biasa.”
Berangkat lebih awal pulang lebih cepat
Saya memutuskan untuk berangkat lebih awal agar saya bisa pulang lebih cepat utnuk menghindari kemacetan dan untungnya kantor di mana saya bekerja menerapkan “smart time” bagi karyawannya. Kebijakan cerdas ini tentu tidak saya sia siakan begitu saja. Pukul 7 saya sudah tiba di kantor dan bergegas pulang bila jam menunjukkan pukul setengah 5 sore.
Dengan begini saya terhindar dari kemacetan dan antrian panjang di jalan. Lalu bagaimana dengan rekan – rekan yang perusahaannya tidak menerapkan kebijakan yang sama. Tentu saja jika ia memaksakan untuk pulang pada jam pulang kerja, ia akan terjebak dengan kemacetan yang sudah menjadi rutinitas di Jakarta.
Memilih untuk pulang lebih lama tentu mengorbankan banyak hal dan itu menjadi pilihan yang berat tentunya. Untuk yang menggunakan kendaraan pribadi mungkin lebih aman, tapi bagaimana dengan yang menggunakan angkutan umum?
Peta macet ala Angga Cipta
Angga Cipta membuat sebuah karya yang cerdas dan membantu bagi siapa saja untuk mengetahui simpul – simpul dan titik – titik kemacetan di Jakarta. Coba saja datang ke ruang rupa di Tebet, dalam pameran “Diperkosa kota.”
Angga mencoba mengilustrasikan fenomena kemacetan Jakarta dan kita bisa melihat sendiri daerah mana saja yang jalannya selalu macet dan jalan mana yang selalu lancar. Ia pun membuat karyanya dalam bentuk interaktif dan mempersilahkan pengunjung pameran untuk ikut memberi titik di mana saja pusat kemacetan di Jakarta. Dengan ikon – ikon yang di sediakan, seperti bus kota, bajaj, truk dan ikon – ikon lainnya, perancang dan pengunjung dapat berbagi pengalaman kemacetan yang pernah “memperkosa” mereka.
Solusi untuk hari ini
Kemacetan dan gilanya jalan di Jakarta tentu tidak terjadi begitu saja, tidak datang hari ini, atau seminggu yang lalu atau pun juga sebulan sebelumnya. Ini terjadi ketika pemerintah daerah tidak siap dalam membaca tingginya pertumbuhan industri kendaraan bermotor yang ada, dan pesatnya pertumbuhan ekonomi di Jakarta dan di permudah lagi dengan sistem pembiayaan secara kredit yang mudah meriah.
Salah satu penyumbang terbesar kemacetan adalah menumpuknya kendaraan pribadi, baik motor dan mobil. Solusi yang terbaik untuk hari ini pun tidak ada, tapi solusi untuk 5 – 10 tahun mendatang harus sudah mulai di pikirkan dan serius untuk mencari jalan mengurai kemacetan yang terjadi.
Jika pemerintah masih tidak serius dalam menangani permasalah ini, bukan tidak mungkin tanpa harus menunggu 5 tahun lagi “tsunami” kemacetan ini akan membuat Jakarta lumpuh dan ini akan membuat cost yang besar, belum lagi dampak lingkungan yang di akibatkan dari kemacetan tersebut.
Pemerintah takkan sanggup bekerja sendiri dalam hal ini, sudah saatnya pemerintah mengandeng masyarakat umum, industri otomotif, kepolisian, ahli lingkungan hidup, ahli transportasi untuk menemukan kebijakan yang strategis dan tepat agar kemacetan mulai terurai dan berkompromi untuk kepentingan yang lebih besar. People may be uneducated but they are not stupid, wassalam.
Sumber tulisan :
Maaf Dik … tidak ada kembalian 720 rupiah, ujar petugas SPBU Pertamina tersebut lalu berlalu di depan sayya
Juni 21st, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Kemarin sore, saya mengisi bensin di sebuah SPBU Pertamina di kawasan Radin Inten , karena sudah terbiasa dan hafal bagaimana menghemat membayar biaya pengisian, saya tahu persis takaran pasnya. “Bang isi 12.000 ribu ya, ujar saya sambil memberikan uang kertas 10 ribuan dan selembar uang 2 ribu, dan biasanya hamper penuh . Siap pak, ujarnya sambil tersenyum kepada saya, kita mulai dari NOL ya pak.
Tidak sampai 1 menit, tangki bensin pun penuh, tumben kali ini petugasnya tidak lalai dalam mengisi dan membuat motor saya tertumpah dengan bensin yang meluber, kali ini ia begitu sabar mengawasinya hingga tak ada satu tetes pun yang tertumpah.
Mata saya pun melihat angka di jarum penunjuk di pengisian tersebut. 11.280 rupiah, sedangkan tangki saya sudah penuh. Bang Tanya saya dengan pelan, tolong kembaliannya, 720 nya ujar saya, karena saya memberikannya uang pas. Maaf dik, (petugas ini memanggil saya dik, mungkin karena tampang saya yang imut kali ya hehehe) tidak ada kembalian kami tidak di bekali uang receh ujarnya lalu berlalu di depan saya.
Hmp, kalau setiap pengisian bensin selalu lebih begini, berarti rugi donk saya, ujarku ketika meninggalkan SPBU tersebut. Coba kawan renungkan, jika seratus orang yang bernasib saya pasti SPBU tersebut menangguk untung lebih dari sekedar jasanya. Bagaimana kalau seribu orang, sedangkan di Jakarta saja, ada 2 juta lebih pengendaraan kendaraan bermotor.
Oooh, untungnya kau SPBU, untung karena tidak memiliki kebijakan mengembalikan kembalian yang tidak bisa di bayarkan. Tapi kalau saya usul, bagaimana kalau fihak manajemen SPBU Pertamina memberikan saja beberapa permen agar para pelanggannya tidak merugi. Bagaimana ?







